header
    ARTIKEL
 

    LINKS
  dot Binawan Safety Centre
spacer
  dot STIKes
spacer
   JURNAL
img
img

Misalokasi Atribut Kereta Api
-
Thursday 20, Apr 2006

Beberapa hari terakhir ini kita disuguhi serangkaian kecelakaan kereta api. Antara lain Sabtu (15/4) dini hari di Gubug, Grobogan, Jawa Tengah, kemudian disusul Selasa (18/4) sore di Kalibata, Jakarta Selatan.

Akibat kecelakaan hari Sabtu, 14 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka saat terjadi tabrakan KA Sembrani dan KA Kertajaya di Stasiun Gubug, Grobogan, Jawa Tengah. Kebanyakan korban adalah penumpang KA (ekonomi) Kertajaya. Adapun dalam peristiwa di Kalibata sekurangnya 6 orang tewas, kesemuanya adalah penumpang metromini yang ditabrak KA Pakuan jurusan Bogor.

Menteri Perhubungan Hatta Rajasa mengatakan, pemicu kecelakaan di dekat Stasiun Gubug adalah kesalahan pada sinyal dan jalur balik. Namun, saya berpendapat, ada kesalahan kebijakan yang telah memicu kesalahan-kesalahan operasional kereta api.
Jika saja PT Kereta Api Indonesia (PT KA) mau mengubah kebijakan operasional armadanya, yaitu tidak lagi mengelompokkan rangkaian kereta apinya menjadi KA ekonomi (misalnya KA Kertajaya) dan KA eksekutif (misalnya KA Sembrani), keselamatan seluruh rangkaian KA dapat ditingkatkan.

Dari sudut system operational science yang dikembangkan oleh Knezevic selama 10 tahun terakhir ini di University of Exeter, Inggris, sebuah sistem—katakan saja sebuah rangkaian kereta api—dapat digambarkan dengan lengkap dengan menyebut fungsi, kinerja, dan atribut-atributnya.

Fungsi sebuah kereta api secara umum adalah mengangkut barang atau manusia dari satu stasiun ke stasiun lain melalui jalur rel secara aman. Sementara kinerja kereta api dapat digambarkan dengan menyatakan kecepatan rata-rata serta kapasitas angkutnya. Atribut-atribut rangkaian kereta api dapat dinyatakan dalam tingkat layanan (service) yang berbeda untuk penumpang pada rangkaian gerbong yang berbeda.

Alokasi atribut

Kegagalan dapat terjadi di tingkat fungsi, kinerja, ataupun atribut. Kecelakaan kereta api jelas merupakan kegagalan fungsi, sementara keterlambatan datang adalah kegagalan kinerja. Sementara reclining seat yang macet, toilet yang tidak ada airnya, pengatur udara yang tidak berfungsi, atau penyediaan kopi hangat yang tidak lagi hangat di gerbong eksekutif merupakan kegagalan atribut.

Pada saat ini terjadi kesalahan pada alokasi atribut kereta api, yaitu melekatkan atribut ekonomi, eksekutif, bisnis, dan eksekutif pada rangkaian gerbong kereta api yang berbeda, bukan pada gerbong-gerbong yang berbeda dalam satu rangkaian kereta api yang sama. Kebijakan ini tercermin dalam penamaan rangkaian kereta api kita sekarang ini. Misalnya KA (ekonomi) Kertajaya dan KA (eksekutif) Sembrani.

Kategorisasi ini boleh juga disebut sebagai pelanggaran hak konsumen atas jasa layanan kereta api karena penumpang KA ekonomi harus menanggung risiko keselamatan yang lebih tinggi daripada penumpang KA eksekutif.

Seharusnya kedua kelas penumpang ditempatkan dalam rangkaian gerbong yang sama walaupun dalam gerbong yang berbeda. Kebijakan yang selama ini berlaku telah menyebabkan KA ekonomi memperoleh alokasi manajemen keselamatan yang lebih rendah dibandingkan dengan KA eksekutif.

Setiap penumpang KA, baik KA ekonomi maupun KA eksekutif, seharusnya memperoleh alokasi keselamatan dan kecepatan yang sama mengingat aspek-aspek keselamatan dan kecepatan terkait erat sekali. Sekalipun layanan kenyamanannya—seperti penyediaan pendingin udara, makan, dan minum—berbeda.

Perbedaan harga tiket tidak boleh diterjemahkan dalam perbedaan tingkat keselamatan dan kecepatan, tetapi hanya boleh diterjemahkan dalam tingkatan kenyamanan (comfort and conveniences) saja. Kebijakan ini akan mendorong subsidi silang antara penumpang kelas eksekutif atau bisnis ke penumpang ekonomi untuk mencapai tingkat keselamatan dan kecepatan yang sama.

Mereka yang berdasi dan tidak seharusnya sama-sama sampai di tujuan pada saat yang sama, dan sama-sama in one piece. Penumpang eksekutif masih tampak rapi dan segar sampai di tujuan, sedangkan penumpang ekonomi tampak kusut dan kurang tidur. Jangan sampai terjadi penumpang ekonomi justru sampai di rumah sakit, apalagi sampai di liang kubur.
Daniel Mohammad Rosyid Tenaga Ahli pada Kementerian Riset dan Teknologi

Kompas, Kamis 20 April 2006
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0604/20/nasional/2590765.htm


by - Daniel Mohammad Rosyid


[Kembali]